Negara Harus Bertanggung Jawab Karena Salah Tangkap Dan Dugaan Penganiayaan Oleh Aparat Kepolisian Terhadap Seorang Marbot Masjid

Berita - Rabu, 12 Juni 2019
LBH Bandar Lampung - Negara Harus Bertanggung Jawab Karena Salah Tangkap Dan Dugaan Penganiayaan Oleh Aparat Kepolisian Terhadap Seorang Marbot Masjid Image by : www.hrw.org

Negara harus betanggung jawab akibat salah tangkap dan penyiksaan yang dilakukan Aparat Kepolisian.
Seorang Marbot atau pengurus Masjid berusia 51 tahun harus menderita karena kakinya ditembak oleh aparat kepolisian dan mendekam dipenjara selama sepuluh bulan karena diduga terlibat dalam tindak pidana perampokan di Kabupaten Lampung Utara.

Oman Abdurahman atau kerap disapa Mbah Omen biasa dikenal sebagai Marbot Msjid Al Jihad di Kampung Sangereng RT 006, RW 001, Dusun Telaga, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Beliau bertempat tinggal di Kampung Sangereng RT 006, RW 001, Dusun Telaga, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.

Pada pukul 10.00 Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB) tanggal 22 Agustus 2017, pada saat sedang bersih-bersih halaman masjid Al Jihad, tiba-tiba datang  segerombolan orang berpakaian preman menangkap Oman Abdurahman yang belakangan adalah anggota Polres Lampung Utara.

Bahwa, setelah penangkapan itu korban di bawa oleh aparat kepolisian ke ruang kosong lantai dua di Polsek Balaraja Resor Kota Tangerang yang beralamat di Jalan Raya Kresek Nomor 2, Balaraja, Kecamatan Suka Mulya, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.

Selama berada diruangan kosong Lantai dua Polsek Balaraja korban mengalami Penyiksaan fisik dan/atau Fisikis yang diakukan oleh Oknum Anggota Polri yang ditugaskan oleh Polres Lampung Utara, tidak lain untuk mendapat sebuah pengakuan dari korban, terkait Perampokan di rumah Haji Budi Yuswo Santoso alias Haji Nanang bin Kasno Nurodo yang beralamat di Dusun V dorowati Desa Penagan Ratu, Kecamatan Abung Timur, Kabupaten Lampung Utara

Kurang lebih 1 (satu) Jam disiksa/dipukuli di bagian tubuh dan kaki korban  oleh Oknum Anggota Polres Lampung Utara menggunakan Pentungan/Tongkat Karet sampai korban Teriak-teriak kesakitan dan berucap “DEMI ALLAH SAYA TIDAK MELAKUKAN PERAMPOKAN, SAYA TIDAK PERNAH KEMANA-MANA SAYA DI MASJID TERUS” akan tetapi teriakan dan ucapan itu tidak diindahkan oleh Aparat Kepolisian, justru terus menerus melakukan Penyiksaan dan mengancam korban untuk mengakui bahwa ia ikut melakukan Perampokan dirumah Haji Budi Yuswo Santoso alias Haji Nanang bin Kasno Nurodo, kalau ia tidak mengakui akan ditembak mati dan mayatnya akan dibuang kelaut.

Oleh karena korban tidak juga mau mengakui apa yang dituduhkan oleh Aparat Kepolisian, lalu Aparat Kepolisian menghadirkan Saudara Abdul Gani yang kondisi fisik/tubuhnya juga dalam keadaan babak belur, lalu Abdul Gani, berkata “SUDAHLAH MBAH OMEN MENGAKU SAJA  KALAU TIDAK  KAMU AKAN MATI”;

Korban  tetap tidak mengakui ikut melakukan perampokan seperti yang dituduhkan oleh Aparat Kepolisian Polres lampung utara tersebut, akan tetapi oleh karena korban sangat ketakutan dan sudah tidak kuat lagi disiksa/dipukuli dan diancam akan ditembak mati dan mayatnya akan dibuang kelaut oleh Aparat Kepolisian, maka ia dengan SANGAT TERPAKSA HARUS MENGAKUI apa yang dituduhkan.

Kemudian setelah mendapatkan pengakuan dari korban, Aparat Kepolisian Lampung Utara membawa korban bersama dengan Abdul Gani ke Polres Lampung Utara dengan mobil dan ditengah perjalanan korban diturunkan ditengah kebun kelapa sawit lalu dilontarkannya timah panas ke kaki kiri korban hingga tembus oleh Aparat Kepolisian Lampung Utara.

Bahwa penangkapan yang dilakukan sejak tanggal 22 Agustus 2017 sampai dengan tanggal 23 Agustus 2017 , tanpa adanya Surat Perintah Penangkapan, dan tanpa adanya pemberitahuan Penangkapan kepada Kelurga korban dan tanpa ada adanya pemberitahuan  Penangkapan kepada Pengurus Mesjid tempat Pemohon mengabdi.

Bahwa sejak korban ditangkap sampai dengan di proses penyidikan yang dilakukan oleh Polres Lampung Utara dan Kejaksaan Negeri Lampung Utara hingga porses persidangan di Pengadilan Negeri Kotabumi Korban sudah ditahan kurang lebih selama sepuluh bulan sejak Agustus 2017 sampai dengan juni 2018. Bahwa berdasarkan putusan Nomor 15/Pid.B/2018/PN Kbu hakim memberikan vonis bebas kepada Oman Abdurahman karena tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan yang didakwakan oleh penuntut umum. 

Kemudian Jaksa Penuntut Umum mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung dan memberikan putusan berdasarkan putusan nomor 129 K/Pid/2019 tanggal 25 September 2018 bahwa permohonan kasasi ditolak.

Oleh karena itu, korban Omar Abdurahman atau Mbah Omen melalui kuasa hukumnya yakni YAYASAN LEMBAGA KONSULTASI & BANTUAN HUKUM FIAT YUSTISIA mengajukan permohonan Pra Peradilan Ganti Kerugian ke Pengadilan Negeri Kotabumi atas tindakan salah tangkap yang dilakukan oleh Aparat Kepolisian Anggota Polres Lampung Utara dan atas dakwaan yang dilayangkan oleh Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Lampung Utara sehingga menyebabkan korban Oman Abdurahman atau Mbah Omen dan keluarga mengalami trauma fisik maupun psikis karena penangkapan, penyiksaan dan penahanan selama sepuluh bulan yang dilakukan oleh Aparat kepolisian dan Kejaksaan Negeri Kotabumi. 


 


tag : torture, salah tangkap, fiat yustisia, kotabumi, lampung utara, penyiksaan, Polres Lampung Utara, Kejaksaan Negeri Kotabumi, Pengadilan Negeri Kotabumi

Bagikan : Facebook Google Twitter Print

Lihat Berita Lainnya

Pengaduan/Komplain

Silahkan menyampaikan keluhan anda terhadap kinerja yang kami berikan dalam memberikan bantuan hukum. Seluruh bentuk pengaduan/komplain yang anda sampaikan, dapat membantu meningkatkan kinerja kami.

Kirim Pengaduan/Komplain

© 2019 - 2022 . All rights reserved | LBH BANDAR LAMPUNG