Tindak Tegas Kelalaian Oknum Anggota Polisi

Berita - Selasa, 13 Agustus 2019
LBH Bandar Lampung - Tindak Tegas Kelalaian Oknum Anggota Polisi Image by : LBH Bandar Lampung

Aksi peluru nyasar akibat kesalahan dan kelalaian 3 oknum polisi bisa dipidana. LBH Bandar Lampung melihat bahwa aksi kelalaian oleh seorang oknum polisi tidak hanya dapat diproses melalui Etik, tetapi dapat dijatuhi pidana. Penegakan hukum yang dilakukan terhadap 3 oknum polisi tersebut harus transparan dan profesional karena akan berimplikasi pada kredibilitas pengak hukum di mata masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan Pasal 12 Ayat (1) PP No. 2 Tahun 2003 dan Pasal 28 Ayat (2) Perkapolri No. 14 Tahun 2011. Bahwa penjatuhan sanksi Etik/Disiplin tidak menghapuskan tuntutan pidana maupun perdata. Lebih lanjut lagi kepolisian harus memastikan pengawasan dan evaluasi terhadap persenjataan baik perawatan dan pemberian serta penggunaan senjata kepada anggota. Sesuai dengan Perkap No. 8 tahun 2009 Tentang Tentang Implementasi Prinsip dan Standar HAM dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Berdasarkan UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Pasal 29 ayat (1) , anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia tunduk pada kekuasaan peradilan umum. Hal ini menunjukkan bahwa anggota polri merupakan warga sipil dan bukan termasuk subjek hukum militer. Walaupun anggota kepolisian termasuk warga sipil, namun terhadap mereka juga berlaku ketentuan Peraturan Disiplin dan Kode Etik Profesi.

Pelanggaran terhadap aturan disiplin dan kode etik akan diperiksa dan bila terbukti akan dijatuhi sanksi. Penjatuhan sanksi disiplin serta sanksi atas pelanggaran kode etik tidak menghapus tuntutan pidana terhadap anggota polisi yang bersangkutan. Oleh karena itu, oknum polisi yang dalam kelalainnya menyebabkan orang lain terluka tetap akan diproses hukum secara pidana, sesuai dengan Pasal 360 jo. 361 KUHP, walaupun telah menjalani sanksi disiplin dan sanksi pelanggaran kode etik. Lebih lanjut, pihak kepolisian harus memastikan evaluasi penggunaan persenjataan, baik perizinan, pengawasan dan pengendalian kepada anggotanya. Sesuai dengan Peraturan Nomor 11 Tahun 2017 Tentang Perizinan, Pengawasan Dan Pengendalian Senjata Api Nonorganik Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia Dan Peralatan Keamanan Yang Digolongkan Senjata Api Bagi Pengemban Fungsi Kepolisian Lainnya.

Kronologi kejadian hari Sabtu kemarin lusa sekitar pukul 09.30 WIB di halaman parkir kampus UBL Bandar Lampung. peristiwa itu bermula saat dua polisi berjanji bertemu di pelataran Kampus UBL Bandar Lampung. Keduanya adalah Bripka Duansyah dan Brigpol Patiko Jayadi yang merupakan polisi dari Polres Lampung Selatan. Keduanya janjian ketemu ingin mengembalikan senjata api milik Bripka Duansyah. Bripka Duansyah sebelumnya meminta tolong kepada Brigadir Patiko untuk memperbaiki senjata api miliknya. Namun, sebelum dikembalikan, ternyata tertinggal satu peluru di dalam senjata api tersebut. Brigpol Patiko ini mengokang senjata ingin memastikan apakah senjata ini macet atau tidak. Namun saat pistol dikokang, keluarlah satu peluru dari senjata api tersebut dan meletus hingga menembus kaca mobil. Alhasil seorang mahasiswa yang melintas terkena peluru di bagian pinggang. Korban saat ini kondisinya tengah dirawat di Rumah Sakit Urip Sumoharjo (berita Koran)


tag : Kelalaian anggota polisi, peluru nyasar, universitas bandar lampung, tindak tegas, kode etik

Bagikan : Facebook Google Twitter Print

Lihat Berita Lainnya

Pengaduan/Komplain

Silahkan menyampaikan keluhan anda terhadap kinerja yang kami berikan dalam memberikan bantuan hukum. Seluruh bentuk pengaduan/komplain yang anda sampaikan, dapat membantu meningkatkan kinerja kami.

Kirim Pengaduan/Komplain

© 2019 - 2022 . All rights reserved | LBH BANDAR LAMPUNG